Catatan Kecil Tentang Kita

Kami Cumi-Cumi & Bajak Laut

Dokter Gigi Akhirnya…..

Dokter Gigi dari dulu boro-boro kepikiran mau ke ahli yang satu ini. Soalnya gw takut and males nyempetin waktu untuk dateng ke sana, karena selama ini gigi gw alhamdulillah ga ada complain (sakit gigi). Semenjak Cumi-cumi ke dokter gigi & bilang ke gw bahwa karang gigi gw harus di bersihin, gw jadi penasaran pengen ke dokter gigi, cuma waktu and tempat dokter gigi yang deket kantor gw agak susah nyarinya, saolnya gw cuma bisa wiken.

Iseng-iseng gw ngobrol sama temen-temen kalo gw lagi pulang bareng dari kantor, ternyata di sebelah gedung kantor ada dokter gigi (emang tempatnya agak masuk kedalam gedung and ga ada plang di depan gedungnya). Akhirnya gw coba cari-cari and datengin. Karena gw kamis itu datengnya medadak jam 2 siang bagian administrasi dokter itu bilang untuk hari ini sudah penuh kalau mau janjian lagi besok jam 2 siang.

Siang itu habis sholat jumat dan makan gw datengin dokter gigi dengan sedikit bertanya-tanya, pasti gw abis dimarahin nih, soalnya seumur hidup ga pernah periksa gigi….eng ing eng…ternyata dokter giginya cewe manis, pas masuk ruangan gw di tanya “kapan terakhir ke dokter gigi”, dengan sedikit nyengir gw jawab “belum pernah dok!”, saya mau “bersihin karang gigi sama cek apa ada gigi yang bolong”, setelah itu dokter mempersilahkan gw duduk di korsi periksa, dokternya langsung bilang “wah karang giginya sudah numpuk nih, atas bawah banyak sekali” dalam hati gw ketawa ngikik “ya jelaslah namanya juga dari kampung ga pernah ke dokter gigi”, akhirnya dalam waktu 1,5 jam proses pembersihan selesai, gigi gw kerasa agak ngilu dan keset banget, banyak bentuk gigi yang gw rasa berubah (mungkin dulu banyakan karang giginya dari pada giginya wakaka). Yah mudaha-mudahan ini adalah permulaan biar gw rajin ke dokter gigi 6 bulan sekali.

Tidak ada Komentar »

Tanya Kenapa??

Cumi-Cumi Say’s:

Kehidupan menurut gue seperti anak sekolah, dan terus berputar seperti roda, berputar seperti bumi, bergerak terus seperti langkah.
Di sekolah, di setiap jam pelajaran, akan selalu ada peluang untuk diberikan pertanyaan oleh guru. Baik ringan maupun berat. Ada yang bisa menjawab dan ada pula yang diam tertunduk karena tidak memiliki jawaban.
Waktu gue duduk di bangku SD, muncul pertanyaan kapan lulus SDnya? Mau lanjutin ke SMP mana? begitu di bangku SMP, muncul pertanyaan kapan lulus SMPnya dan lanjutin ke SMA mana? di bangku SMA, pertanyaan yang sama kembali hadir. kapan lulus SMAnya dan kuliah dimana? sebenarnya pasti akan muncul pertanyaan lainnya juga. Mulia dari rangking berapa? nilainya berapa? ada yang merah atau enggak? dan kalo ternyata hasilnya di luar dugaan, atau misalnya ngga lulus, pasti pertanyaan yang disuguhkan akan lebih dari itu. Kok bisa nggak lulus? makanya jangan main terus. Dan bla bla bla…
Yang sering terjadi pada gue adalah, ketika nilai Matematika di raport gue jeblok alias jelek. Paling tinggi aja 6. Hehehehee…paling ditanyanya begini,”Kok nilai matematikanya jelek? memang susah soalnya? Bapak kamu itu nilai matematikanya aja bagus. Kok matematika anaknya bisa begini. Makanya kamu belajar yang bener. Dan bla bla bla bla…,”
Dan, nilai matematika gue terus memburuk selama gue jalani. Hal itu seperti kutukan. Ketika menghadapi ujian kelulusan SMA pun, Ibu sampai bilang gini ke gue, “Yang penting kamu lulus”. Bikin gue lega, sih. Karena tidak membebani gue dengan harapan-harapan Ibu yang menginginkan gue dapet nilai gede.
Gue ngga kuliah di Universitas atau Perguruan Tinggi Negeri ternama. Kampus gue super biasa. Bahkan ketika ditanya kuliah dimana, gue lebih sering menjelaskan kuliah di “Sekolah Tinggi Komunikasi”. Tanpa menyebutkan label kampus. Karena, pasti mereka akan bingung juga. Dan ujung-ujungnya nanya-nanya lagi. Jadi panjang kan. Tapi, ngga menutup kemungkinan juga ketika gue menyebutkan Sekolah Tinggi Komunikasi pertanyaan nama kampusnya ngga muncul. Nama kampusnya itu? ooo, itu namanya. Di daerah mana sih? sebelah mana ya? Bikin sakit hati kalo terus-terusan ditanya.
Alhamdulilah, gue lulus tepat waktu. Perjuangan ngga berhenti sampai disitu. Adalah masalah pekerjaan. Udah kerja belum? ngelamar kemana aja? Anak saya lulusan UI cuma seminggu di rumah langsung diinterview. Damn! Berhubungan lagi sama yang namanya label kampus. Tapi ada secercah keyakinan yang masih tersisah di antara kemelasan gue. Allah ngga tidur. Allah pasti punya rencana kenapa selama 6 bulan gue masih belum kerja juga. Dan terbukti. Gue dipanggil untuk interview oleh perusahaan Station Televisi Nasional di Jakarta. Dan gue masih kerja di perusahaan sampai saat ini.
Setelah perjuangan mendapatkan pekerjaan terbayar, selanjutnya perjuangan untuk mendapatkan jodoh Tuhan. Setelah kurang lebih 1 tahun setengah kerja, gue pun dipertemukan oleh seorang laki-laki yang akhirnya menjadi suami gue saat ini. Alias Bajak Laut. Alhamdulilah, sebelum gue bertemu Bajak Laut nggak ada pertanyaan ekstrem yang bikin sakit hati.
***
Sekarang gue udah menyandang status sebagai seoarang istri. Ada hal penting yang harus gue persiapkan. Adalah mental ketika ada yang bertanya; udah hamil belum? kok belum hamil-hamil? makannya yang sehat-sehat dong. Dan bla bla bla bla…
Pertanyaan-pertanyaan akan muncul lagi ketika ada hal gue sudah memiliki anak. Mulai dari udah bisa apa aja? sekolah dimana? dan pertanyaan-pertanyaan dari hal yang sederhana sampai yang rumit dan nggak penting.

Hidup memang akan selalu dikelilingi oleh ribuan pertanyaan. Tergantung bagaimana diri kita yang menanggapi :)

Tidak ada Komentar »

24 tahun

Cumi-cumi say’s;

Allah begitu baik, karena gue masih diberikan nafas hingga tahun ke 24. Hadiah yang begitu besar adalah diberikannya suami yang begitu baik, pintar, sabar, dan beberapa kelebihan kekurangan lainnya.
Ini adalah perayaan ulang tahun gue yang ke 2 kalinya bersama Bajak Laut.
Malam-malam tepat pukul 24:00, Bajak Laut bangunin gue sambil bawa cake kecil sebanyak 6 buah yang bertuliskan “Happy Bday Ibu” dengan kondisi lampu kamar dimatiin. Antara ngantuk, dan mulut ngga sanggup niup lilin karena jujur aja kayaknya rada-rada bau :D . Tapi, pada akhirnya gue bangun juga. Lalu tiup lilin.
Bukan kado berupa barang mahal yang gue harapkan dari Bajak Laut. Saat ini, gue insyaallah sudah siap untuk menerima rejeki dari Allah berupa anak. Mengenai rejeki harta, itu sudah diatur Allah. Jadi, sekalipun sampe sekarang kita belum punya rumah sendiri dan belum punya banyak uang, insyaallah Allah sudah punya jalan terbaik untuk mencukupi kebutuhan kita seiring berjalannya waktu.

آمِيّنْ… آمِيّنْ….يَ رَ بَّلْ عَلَمِيّ

Tidak ada Komentar »

Ranking Google

Semenjak habis nikah gw belum pernah nulis lagi di blog…karena sibuk dari urusan bulan madu n kerjaan yang lagi lumayan mendera-dera setelah cuti seminggu. Pas gw coba buka cumicumibajaklaut.wordpress.com jreng-jreng….WOW udah dapet Pagerank 1 dari Mbah Google…artinya blog kita lumayan banyak yang baca dan akses dan kena di search Google…
Pagerank 1

Tidak ada Komentar »

4 Nov ’12

Cumi-Cumi Say’s:

Minggu, 4 Nov ’12. Adalah hari tepenting dalam hidup gue dan Bajak laut. Karena itu adalah hari pernikahan kami.
Sekitar pukul 16:00 prosesi ijab qobul dilaksanakan. Sampai akhirnya Bajak Laut mengucapkan ijab di depan Penghulu dan saksi-saksi yang hadir. Meskipun dia harus mengulang. Karena Penghulu menginginkan apa yang dia ucapkan sesuai dengan catatan yang diberikan Penghulu.
Gue deg-degan. Gimana enggak, kalo sampe lebih dari 3x tetep salah, mau nggak mau Bajak Laut harus memulai hari Nol lagi. Maksudnya, dia dan keluarganya harus pulang ke tempat dimana terakhir kali dia singgah sebelum berada di masjid, tempat prosesi akad nikah. Dan barulah mereka boleh balik lagi ke masjid. Tapi, alhamdulilahnya, Bajak Laut cukup mengulang 1x aja. Rasa lega dan haru muncul setelah kalimat Sah dan lafal Alfatihah dilantunkan sebagai wujud rasa syukur karena Bajak Laut berhasil mengucapkan Ijab.
Selanjutnya, proses tukar menukar cincin dan sungkem pun dilakukan. Lalu, beberapa keluarga dan teman-teman yang hadir di akad kita diperkenankan untuk memberikan ucapan selamat. Nggak nyangka, karena ternyata yang dateng lumayan banyak. Tapi,, yang paling banyak sih temen-temennya Bajak Laut.
Begitu gue dan Bajak Laut masuk ke ruang make-up, tiba-tiba hujan turun. Mitosnya, kalo hujan turun bersamaan ketika ada acara pernikahan, itu artinya si penganten mandi sebelum acara. Dan hal itu adalah sesuatu yang harus dihindari. Sementara gue dan Bajak Laut, sebelum berangkat ke gedung melakukan aktifitas mandi terlebih dulu. Maklum, cuaca sebelumnya begitu panas. Dan gue kegerahan. Gue sih ngambil positifnya aja. Kalo hujan turun itu artinya ada rejeki buat warga Bekasi. Ya, karena sudah cukup lama Bekasi nggak diguyur hujan. Biarin aja mereka berkomentar macam-macam.
Perasaan seneng lainnya yang gue rasain adalah ternyata make-up yang menempel di wajah gue serba tidak berlebihan. Beberapa kali gue ngingetin si perias bahwa gue ngga mau tebel-tebel make-upnya. Ngga tau deh dia sebel atau enggak sama gue karena dicerewetin.
Oh ya, ketika beberapa Perempuan beranggapan bahwa dengan mencukur sedikit bulu alis bisa memberikan tampilan yang berbeda atau pangling bagi si pengantin, gue menolak secara keras atas apa yang akan dilakukan si perias. Gue ngga mau alis gue dicukur. Sedikit apapun itu. Karena bagi gue, alis bukan ukurannya. Bahkan menurut gue akan terlihat aneh kalo sampe dicukur. Biarkan saja hadir terlihat apaadanya. Cantik itu akan terlihat indah dari senyum yang tulus, hati yang baik dan keikhlasan dalam setiap gerakan.
***
Resepsi berlangsung selama kurang lebih 2 jam. Sejak pukul 19:00-21:00. Gue termasuk orang yang mengaharapkan kesempurnaan dalam acara-acara penting. Termasuk hal detail sekalipun. Hanya saja, gue dan Bajak Laut hanya diberi kesempatan untuk mengatur design undangan, list undangan dan baju pengantin. Selebihnya, gue nggak boleh terjun sendiri untuk mengatur ketring dan lain-lain. Karena, keluarga ngga menginginkan gue pusing. Meskipun begitu, tetep aja gue pusing :D .
Pusing karena, beberapa kali design undangan direvisi. Pusing karena design baju pengantin untuk resepsi ngga sesuai dengan contoh yang gue kasih. Berkali-kali gue bertanya ke Bajak Laut mengenai bagus atau tidaknya baju itu. Dan berkali-kali juga Bajak Laut bilang bahwa bajunya bagus. Tapi, gue tetep aja ngga percaya. Karena bajunya ngga sesuai dengan apa yang gue inginkan. Contoh yang gue berikan ngga berfungsi sama sekali. Sia-sia!!! Gue terus-terusan mengeluh ke Bajak Laut. Tapi, begini jawaban dia “Mau bagaimanapun bentuk bajunya, yang terpenting sekarang bagaimana cara kamu membawakan baju itu. Kalo kamu PeDe, insyaallah kamu pasti akan terlihat cantik”. Ya, hanya jawaban itu yang menurut gue paling indah. Mau dirombak pun kayaknya waktunya ngga cukup. Akhirnya, gue pun ikhlas aja.
Bajak Laut belum terlalu ambil pusing. Karena permasalahan yang gue alami belum menyangkut dirinya secara besar. Maklum, karena baju yang gue design buat dia belum diperlihatkan. Dan lagipula designnya simple. Jadi, pasti ngga akan salah. Bajak Laut pun pernah bilang, bahwa yang terpenting di acara pernikahan adalah akad nikah. Karena, akad berhubungan dengan keabsahan di mata Allah.
Begitu hari besar itu datang, ternyata banyak hal buruk datang di luar dugaan kita. Gue cuma bisa diam! Mulai dari make-up keluarga, perlakuan WO ke anggota keluarga yang belum dia kenal, dan beberapa hal lainnya yang kurang enak untuk diceritakan. Gue juga syok ketika tahu bahwa baju resepsi untuk Bajak Laut pun juga ngga sesuai dengan prediksi gue. Warna yang gue inginkan ngga sesuai. Arrrrrrgh! Gue pengen teriak di telinga orang-orang WO itu. Bahwa kerja mereka ngga bagus!
Dengan terbukanya kesalahan pada saat acara, Bajak Laut udah mau marah-marah. Raut mukanya udah berubah. Tapi berusaha ditahan.
Kita berusaha menahan diri. Setidaknya sampai acara resepsi selesai. Setelah itu, kita boleh marah-marah sesuka hati.
Atas kejadian-kejadian buruk itu, gue sampe ngga enak hati sama mertua. Dan secara pribadi, gue minta maaf sama beliau atas segala kekurangan yang ada. Dan juga ke keluarganya.
***
Dari kekurangan dan kesalahan yang ada di acara pernikahan kita, berikut adalah beberapa hal yang harus diperhatikan;
1. List pekerjaan-pekerjaan yang harus dikerjakan. Baik yang simple maupun besar.
2. Bentuk panitia acara secara detail.
3. Jelaskan pekerjaan mereka secara mendalam dan pastikan tidak akan menyebrang ke pekerjaan yang lain. Karena dikhawatirkan pekerjaan utamanya akan terbengkalai.
4. List kebutuhan apa saja yang harus dibeli. Jangan sampai terlewat hal-hal yang kecil.
5. Catat apa saja yang pernah disepakati ketika bertemu WO.
6. Bersikap disiplin terhadap WO pun ternyata sangat dibutuhkan.
7. Waspada ketika WO mulai bermulut besar!

Sebenernya masih banyak lagi yang harus diperhatikan. Tapi, kurang lebih itu yang bisa gue bagi :)
***
Dan Alhamdulilah, ketika gue nulis tulisan ini usia pernikahan kita sudah 1 bulan.
Semoga Allah terus memberikan kekuatan kepada kami untuk mengahadpi bahtera kehidupan.
Amiiiiiiiiiiiiin…
Yang terpenting juga adalah, Allah memberikan kepercayaaan kepada kita untuk memiliki momongan :)

Tidak ada Komentar »

My wedding

Cumi-cumi say’s:

Hari ini adalah hari pernikahan gue dan Bajak Laut. Waktu gue lagi nulis tulisan ini, gue masih berstatus calon istri.
Rasa deg-degan mulai bermunculan. Kemarin dan beberapa hari yang lalu bener-bener belum terasa. Yang gue lakuin cuma bisa berdoa supaya acara nanti berjalan dengan lancar.
Akad nikah akan dilangsungkan sekitar pukul 4 sore. Dan resepsi pukul 7-9 malam. Gue pengen cepet-cepet melalui semua itu. Supaya semuanya cepet kelar dan deg-degannya ilang.

Insyaallah gue akan menjadi makmum yang mengikuti perintah imam. Menjadi istri yang baik dan menjaga nama baik suami di depan semua orang.

Bismillahirohmanirohim

Tidak ada Komentar »

Pupi-pupi

Cumi-cumi say’s:

Entah karena stress atau karena salah makan gue juga ngga tau pasti. Yang pasti, waktu itu setelah gue makan siang dengan menu nasi padang (terong + perkedel), tiba-tiba pusing menyerang kepala bagian depan. Rasa itu masih gue abaikan. Menjelang sore, gue sama temen gue pergi ke kantin, dan gue makan soup buah. Bukannya enakan, eh begitu sampe ruangan bukan cuma pusing doang yang gue rasaian. Tapi juga mual.
Kalo udah bagitu, mau beraktifitas kayak apapun ngga nyaman. Saking ngga kuat menahan, waktu pulang gue naik taksi. Itupun setelah sampai UKI. Karena, pada awalnya gue mencoba untuk bertahan. Eh, ternyata lama-lama sempoyongan juga.
Nah, besoknya gue masih masuk kerja. Rasa ngga enak badan yang kemarin gue rasain masih tetap gue rasain. Bawaannya kenyaaaang terus. Laper pun cuma sebentar. Begitu diisi makanan sedikit langsung cepet kenyang. Bahkan, sekedar liat gambar makanan aja langsung mendadak kenyang.
Dan semuanya berujung ketika malam menjelang. Semua makanan yang ada di perut gue keluar semuanya. Gue muntah-muntah dan buang-buang air. Badan jadi lemas, letih, lunglai. Akhirnya gue memutuskan untuk ngga masuk kerja.
Waktu gue cerita apa yang gue alami ke Bajak Laut, ternyata dia juga menyuguhkan cerita yang sama. Tapi, kondisi tubuhnya masih bisa diajak kompromi untuk kerja. Barulah besoknya ketika gue udah siap untuk kerja, eh ternyata malah gantian dia yang ngga bisa kerja. Bajak Laut tepar. Buang-buang airnya semakin menjadi.
***
Menjaga kondisi menjelang pernikahan itu memang wajid hukumnya. Sekalipun masih dalam jangka waktu beberapa minggu lagi. Karena dampaknya bisa kemana-kemana. Dimana seharusnya bisa mengerjakan target yang kesekian, eh terpaksa ditunda karena sakit.

Tidak ada Komentar »

Dipingit

Udah hampir 2 minggu gw n cumi2 dipingit ga boleh ketemuan and apel hahaha…maklum menuju Wedding Days kita d jagain sama ortu supaya jaga kondisi…kangen banget sih…tapi buat kebaikan ya kita turutin aja…

Tidak ada Komentar »

Our weds card

image

Ini undangan pernikahan aku dan cumi2 setelah dari proses browsing sedikit ngayal brantem dan di bantu Widisampurna printing akhirnya jadi juga…. Pertama liat hasilnya takjub juga…kok bagus banget dr bentuk dan warnanya….lebih dari yang kita bayangkan.

Tidak ada Komentar »

Model Amatir

Cumi-Cumi Say’s:

Profesi model selama ini sangat gue anggap remeh. Karena menurut gue cuma bermodalkan senyum 3 jari, pamer gigi, miring sana-sini, dan berbagai macam pose. Tanpa harus mikirin hitung menghitung atau hal-hal ribet lainnya.
Tapi, begitu gue sendiri yang berada di posisi itu, ternyata ribet dan capeknya sungguh tidak bisa ditahan.
Waktu itu, gue dan Bajak Laut bikin foto prewed di rumah. temannya sih santai dan kegiatan sehari-hari aja. Tapi, ada 1 gaun yang gue pake untuk mengimbangi tema santainya.
Si fotografer bener-bener menuntut gue dan Bajak Laut untuk berpose dan tersenyum sesuai intruksi. Meskipun intruksinya ngga secara maksimal bisa gue lakuin. Karena, ternyata senyum itu susah-susah gampang kalo untuk enggel kamera. Apalagi gue dan Bajak Laut juga harus bergaya. Sementara, jujur aja kalo gue foto selama ini asal-asalan. Asal keliatan cakep itu udah lebih dari cukup. Setelah beberapa kali ngulang dan ngulang, akhirnya gue marasakan pegel-pegel juga. Apakabar sama model-model itu ya? Gimana kalo mereka ngga bisa melaksanakan intruksi dengan baik? Mereka harus bisa bekerja profesional. Ngga peduli meskipun lagi ada masalah berat, abis nangis, lagi kesel atau menghadapi masalah lainnya. Mereka harus tetep bisa berekspresi di depan kamera. Hah! Dipikir-pikir, kayaknya mendingan gue beraktifitas dengan pekerjaan gue selama ini. Duduk cantik di depan komputer.

Pekerjaan apapun, pada dasarnya ada sisi enak dan ngga enaknya. Sama halnya dengan pekerjaan gue sekarang. Tinggal sikap diri kita sendiri apakah bisa menikmati atau enggak pekerjaan itu.

:)

Tidak ada Komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.