Doa ibu

Bertahun-tahun ibu tak pernah berhenti berdoa menunggu kehadiranku. Hujan menjadikannya riang dan tak putus meminta. Keyakinannya adalah bahwa hujan melancarkan segala doa. Malam pun tak asing meski berteman sepi. Karena keyakinannya bahwa malam sendiri melancarkan segala keinginan hati.

Keteguhan hati ibu nyatanya membuahkan hasil. Allah mengijinkannya memilikiku. Aku pun diterima dengan suka cita.

Setiap hari aku diajaknya bicara. Shalawatnya menggetarkan tubuhku yang terus berlindung dalam kehangatannya. Aku senang dijaga ibu.

Bapak pun tak pernah lupa menyiapkan susu untuk kami. Susu coklat adalah favorit kami. Sejak pertama kami dipertemukan, hanya sekali ayah memberikan susu vanilla. Ibu muntah sejadi-jadinya. Lemas dan menangis. Makanya ibu beralih pada susu coklat.

Iklan

Liburan part. 5 & 6

Liburan ga perlu jauh2 juga kan? Nah, waktu tgl 26 nov ’17 yang lalu akhirnya kita bermain di pantai kawasan Jakarta. Apalagi kalau bukan Ancol. Murah kaann? Ini untuk yang kedua kalinya kita main di pantai Ancol. Sedang ada pembangunan di sekitarnya. Jadi, agak sempit jalanan untuk kendaraan yang melintas. Dulu, kita bermainnya di wilayah depan. Jadi lumayan rame. Tapi, untuk yang kedua kalinya kita memilih di bagian agak belakang. Lumayan jauh menuju tempat parkirnya. Di tempat yang kita tuju, suasananya ga terlalu bising dengan alunan musik dan lalu-lalang orang. Paling yang berkuasa angin. Pasirnya pun bersih. Soal sampah, hanya ada secuil dan itupun dilakukan oleh orang yang ga bertanggung jawab. Pelakunya tepat di depan saya dan suami (eh curhat. Hehehe…). Tapi, beneran bikin saya geram banget. Dengan seenaknya dia membuang pembungkus lontong di pinggir pantai tanpa rasa berdosa (si ibu nyuapin anaknya yang lagi main air). Yang saya dan suami lakukan? Menyindirnya. Entah ga dengar atau pura2 ga dengar. Aksi kami bak angin lalu. Padahal jarak kami cukup dekat. Eits, jadi curhat terus nih. Tapi memang benar, lho. Sedikit atau pun banyak sampah yang dibuang sembarangan, secara langsung sudah menjadi cikal bakal menumpuknya sampah yang kelak akan menjadi berkepanjangan. Efeknya? Buanyak! Air laut tercemar, ga sedap di pandang mata, wisatawan berkurang, ikan2 pun pastinya mabok laut. Eh iya, waktu anak2 sedang main di pinggir pantai, ada beberapa ikan kecil2 yang berlalu lalang di pinggir pantai. Entah memang dari dulunya sudah begitu atau efek reklamasi? Hmmm…kasian juga ya. Menurut saya sih seharusnya ikan2 itu ada di wilayah yang agak ke tengah. Ya kita doakan semoga habitat mereka tidak cepat punah ya.

Alhamdulillah anak2 happy. Naura menikmati permainan pasirnya bersama teman barunya (naura punya teman baru waktu main di pantai. 1 laki n 1 perempuan). Sementara Rania masih harus ekstra dijaga ayah. Karena kalau lepas kontrol sedikit saja bisa jatuh. Sementara saya? Saya cukup jadi fotografi alakadarnya, jagain tas, dan pengawas mereka. Hihihi…

***

Nah, di awal bulan Desember, yaitu tanggal 1 dan bertepatan dengan hari jumat, ayah ajak kita jalan2 lagiiii. Yeyyyyy!!! Jalan2nya ke Bandung. Segala perlengkapan disiapkan. Mulai dari makanan, minuman, mainan, bantal, dan yang pasti isi dompet tak boleh ketinggalan. Hehe…

Kita berangkat sekitar pukul 6. Dan begitu masuk tol, WOW! macet sudah di dapan mata. Prediksi awal sekitar pukul 9 sampai tujuan, tapi nyatanya mundur drastis. Sampai hotel jam 4 sore. Itupun setelah terjadi drama salah jalan. Hiks hiks… Alhamdulillah anak2 tidak rewel. Penduduk Jakarta dan sekitarnya kala itu sepertinya banyak yang hijrah ke Bandung. Lalu, pergi kemana warga Bandung? Kira2 mereka jenuh ga ya karena setiap libur panjang kotanya menjadi padat merayap? Seperti tidak bisa menikmati kotanya sendiri.

Beberapa kali kita mampir di rest area. Selain ayah harus buang air kecil, ayah juga harus shalat jumat. Dan, kebetulan persediaan minum menipis. Jadi sudah harus isi ulang lagi. Rest area kala itu berubah menjadi lautan kendaraan. Sesak! Mereka pasti lelah karena efek macet yang terlalu panjang.

Untuk mengusir kejenuhan, Naura Rania dan ayah kompak menyanyikan lagu baby shark beserta gerakannya. Kadang pula Rania memilih menghadap ke jendela memandangi kendaraan yang berlalu lalang. Posisinya, bantal dirapatkan di dekat pintu lalu dia naik ke atasnya. Sementara Naura menikmati cemilan kesukaannya (lagi seneng2nya sama yupi. Tapi cuma boleh makan 1 dalam sehari).

DAN…

dan entah sampai kapan umurku akan bertambah. Apakah tahun ini menjadi tahun terakhir atau Allah masih memberikanku lembaran kehidupan lagi? Dan entah sampai kapan aku akan terus berdoa kepada-Nya. Meminta dan memuja. Dan entah sampai kapan mas Gagah akan setia menemaniku.
Aku tahu, setiap kali ada pertemuan keluarga besar dari mas Gagah, pasti ada pertanyaan yang keluar entah itu serius atau guyonan dari mereka. Ku perhatikan dari kejauhan mas Gagah terlihat membelaku dengan berbagai macam argumen yang tepat sasaran mematahkan pertanyaan mereka. Tapi entah sampai kapan dia akan terus membelaku. Lama-lama aku semakin terkucilkan berada di antara keluarga ini.
Usiaku sudah tak muda lagi. Waktuku lebih banyak di rumah. Mengurus rumah dan ketika sore memberikan les untuk beberapa anak yang tinggal di dekat rumah. Rumah ku semakin hidup karena kehadiran mereka juga. ku biarkan rumah ku seperti tempat bermain bagi mereka. Tak jarang seperti kapal pecah. Mainan berserakan dimana-mana. Bahkan pernah vas bunga pemberian mertua terjatuh dan tepat ketika mertua ada di rumah. Alhasil, mata ibu melotot dan terus menggerutu menghujani anak-anak.
“Bu. Namanya juga anak-anak. Mereka tidak sengaja.”
“Kamu sih senangnya ngumpulin anak-anak buat berantakin rumah! Vas itu ibu beli sebagai kado ulang tahun pernikahan kamu. Vas itu juga kan yang membuat tambah berwarna ruangan ini.”
“Iya bu. Nindi tahu. Maafkan mereka. Kan mereka sudah minta maaf juga. Kasihan nanti mereka tidak mau belajar lagi.”
“Nin, ibu tuh heran sama kamu. Kamu kok peduli banget sama mereka?”
“Kasian mereka, bu. Daripada les jauh kan lebih baik di sekitar rumah. Orangtua mereka kan rata-rata pekerja semua.”
“Kamu ngga kasian sama diri kamu? Sama suami kamu?”
Aku tahu arah pembicaraan ibu.
“Sudah berapa tahun kalian menikah? 10 tahun kan? Dan kalian belum memiliki keturunan.”
Bukan lagi seperti geledek di siang bolong kalimat ibu menyambar telinga ku. Bom! Ya mungkin itu yang lebih tepat. Ini kalimat ibu untuk yang ke sekian puluh kali.
Ku pandangi mereka satu persatu yang masih tertunduk manahan takut pada ibu. Merekalah anak-anakku. Meski bukan darah dagingku. Hatiku manangis. Bukan lagi air mata yang ku tumpahkan. Tapi, senyum hangat seolah mengiba sebagai hamba yang tak punya kuasa.
“Besok les lagi, ya.” Ku antar mereka sampai di pintu gerbang.
“Kami takut, bu.”
“Ngga usah takut. Nenek baik kok. Nenek marah karena kalian memang salah.”
“Vas bunganya kita ganti saja ya, bu?”
“Memangnya kalian punya uang? Dan tahu belinya dimana?”
“Ibu orang baik, jadi kami akan berusaha untuk itu.”
“Sudah tidak perlu. Ibu masih punya vas bunga banyak di gudang.”
Terus ku perlihatkan wajah baik-baik saja pada mereka.
Hari itu memang tidak biasanya mertua datang sendirian dan di hari jumat. Padahal besok akan ada arisan keluarga di rumah ibu. Ibu kan biasanya sibuk menyiapkan kebutuhan. Atau mungkin karena sudah ada asistan jadi ibu memilih mengunjungi kami. Ah, tapi ibu terlalu cerewet mengenai kebersihan makanan. Semuanya kan harus di bawah pengawasannya. Entahlah!
Mas Gagah pun belum pulang, sementara hari sudah larut. Ku sarankan agar ibu tidur saja. Tapi, beliau menolak. Karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan dengannya. Benar saja, sampai pukul 10 malam mas Gagah datang dan ibu belum tidur.
Meskipun kami sudah sama-sama dewasa, tapi rasanya kurang sopan jika aku turut menikmati obrolan itu. Maka ku pilih masuk ke kamar setelah menemani mas Gagah makan malam. Padahal aku sedang rindu dengannya. Aku ingin melepas kepenatan pikiran sambil berbincang-bincang dengannya. Senyumnya membuatku teduh.
“Besok, akan ada tamu untuk kamu.”
“Siapa, bu?”
“Kamu ingat dengan Maria?”
“Maria?”
“Iya. Teman mu sewaktu SMA. Dia menjadi dokter. Dan baru dipindah tugas ke Jakarta.”
“Ooo, iya. Gagah ingat, bu. Memangnya ada keperluan apa, bu?”
Semakin ku dengarkan tapi semakin hilang suara ibu. Siapa Maria? Mas Gagah tidak pernah cerita.
***
“Tetaplah disisiku. Jika dunia tidak dapat kita raih, biarkan akhirat terus mengikat kita. Aku mencintaimu wahai istriku. Teruslah tersenyum. Karena itu energiku. Peluklah aku jika kau tak mampu berjalan di tengah angin.”
Ku peluk suamiku erat-erat ketika pagi itu dia berada di belakangku yang tengah merapikan riasan wajah.
Maria sengaja dipertemukan dengan mas Gagah. Lagi-lagi mengenai keturunan. Karena dia dokter jadi ibu percaya pasti akan ada keturunan dari pernikahan keduanya.
Pada pertemuan keluarga, hampir semuanya kagum pada kecantikannya. Termasuk aku. Dia memang cantik dan pintar. Terbukti dia menjadi dokter.
Aku dibuat bingung. Padahal Maria cantik dan pintar, apakah tidak ada laki-laki yang tertarik padanya? Dan herannya dia tidak menolak ajakan ibu ketika bermaksud menjodohkannya dengan mas Gagah sebagai istri ke 2. Sementara, mas gagah berkali-kali melihat ke arahku. Senyumnya khas. Semakin menguatkan langkahku.
Dan, makan siang pun usai. Semuanya memilih posisi ternyaman masing-masing. Aku memilih duduk di dekat jendela ruang tamu. Tiba-tiba Maria datang menghampiri.
Maria tersenyum padaku. Aku pun membalasnya.
“Aku tahu perasaanmu. Mas Gagah baik. Kedatanganku kesini hanya sebagai bentuk menghormati ajakan ibu dari teman SMA ku. Ibu terus mendesak agar aku datang. Aku tidak ingin menjadi sombong karena sebuah profesi. Karena takdir milik Tuhan. Belum tentu juga anak itu akan terlahir dari rahimku. Kamu adalah ibu nomor satu. Milik seluruh anak.”
Dia menggenggam tanganku.

Maria,

Secangkir Teh

Ada rasa tersendiri yang tercipta dari secangkir teh. Tentang kehangatan, kenikmatan dan kepuasan.

Saya memang bukan pencinta teh. Tapi, saya selalu dapat menikmati di setiap teguk kehadirannya. 

Berbagai macam jenis penyajiannya pun membuat si penikmat mendapatkan sensasi yang berbeda2. Saya biasanya ketika berbuka puasa, pusing dan musim hujan, selalu menikmati teh hangat. Biasanya sambil mencelupkan biskuit. Dan sensasinya semakin nikmaaaaatttt. Sementara suami saya, lebih senang es teh manis dari pedagang baso yang dikemas di plastik. Menurutnya rasanya jauh lebih nikmat dari es teh manis manapun. Bahkan mungkin jika saya yang membuatkan pasti akan diberikan nilai C. Hihihi… Tapi, ada pengecualian. Saya tidak suka teh tarik (maaf). Bagi saya rasanya terlalu aneh (maaf lagi). Tapi, saya acungi dua jempol bagi penjual teh tarik. Karena memiliki kreatifitas unik dalam menyajikannya. Tuang sana tuang sini sambil di”tarik2″.

Teh menjadi salah satu suguhan di rumah ketika ada tamu atau saudara yang berkunjung. Simple.

soal membuat teh, saya tidak punya takaran. Hanya menggunakan rumus kira2. Yang penting jangan kemanisann dan waktu mencelupkan teh kemasannya pun cukup 30″ saja. Sebenarnya, akan lebih baik jika menggunakan teh tubruk. Karena tidak ada “benda asing” yang turut dalam proses pencelupannya.

Begitulah teh. Selamat menikmati sensasinya. Tapi, jangan terlalu sering ya. Ingat, segala sesuatu yang berlebihan akan memberikan dampak yang tidak baik.

šŸ™‚

Bobok cantikĀ 

Beberapa kali ngebayangin tidur di hotel dengan kasur serba atribut warna putih. Begitu masuk disambut hiasan 2 bebek dari handuk yang seolah2 sedang memadu kasih dan duduk cantik di kasur putih. Sama persis kayak dulu waktu bulan madu di Bali. Kerjaannya cuma tidur, makan, jalan2. Ga pusing harus mikirin besok masak apa. Kalau malam2 laper, tinggal pesan antar. Nikmatnya…

Tapi, alhamdulillah saya cepat tersadar. Apa gunanya rumah jika tidak ditinggali dan memilih tinggal di hotel hanya demi kesenangan sesaat semata. Berbeda jika memang sedang berlibur jauh. Sekecil dan bagaimanapun bentuk rumah kita, jauh lebih lengkap segalanya dan terasa hangat. Uangnya bisa ditabung untuk keperluan lain. Misalnya jalan2 ke tempat yang lebih penting. 

Ya…namanya jg khayalannnn

Liburan part.4

Setelah beberapa kali rencana liburan ini gagal karena satu dan lain hal, alhamdulillah tepatnya 12 agustus 2017 kami sekeluarga pergi ke Sulawesi Tenggara. Lebih tepatnya saya pulang kampung. Hehehehe… konsekuensinya Naura harus libur sementara waktu dan suami cuti.

Ini perjalanan pulang kampung saya yang ke-3 (kalo ga salah). Dan terakhir pulang sebelum dilamar, yaitu tahun 2011. Di perjalanan yang sekarang ternyata saya membawa suami dan dua anak kecil yang setiap hari memberikan rasa dan warna untuk saya dan suami.

Perjalanan udara ditempuh kurang lebih 3 jam dengan perbedaan waktu lebih cepat 1 jam untuk WITA. Ini merupakan pengalaman pertama NauRania melakukan perjalanan udara. Beberapa hari sebelum berangkat, segala hal yang dapat mengusir atau menenangkan anak2 jika rewel sudah disiapkan. Mulai dari permen lolipop (padahal saya anti banget memberikan anak2 permen) dan beberapa mainan kesukaan mereka. Saya pun pelan2 memberitahu anak2 agar jangan rewel jika naik pesawat nanti. Terutama kepada Rania. Si bungsu yang susah ditebak. Meskipun pada kenyataannya Rania memang benar2 rewel selama di perjalanan JKT-UJP. Ya, pesawat yang kami naiki harus transit di Ujung Panjang (Makasar). 

Tanda2 kerewelan mulai nampak ketika kami berada di ruang tunggu. Antara mengantuk (karena terbangun pukul setengah dini hari) atau ingin ASI. Berbeda dengan Naura yang tampak menikmati manisnya permen dan tak sabar ingin segera naik pesawat. 

Setibanya di dalam, Rania benar2 tidak berminat. Jarak tempat duduk yang seadanya membuat dia tidak nyaman. Tapi, kerewelan itu terkalahkan dengan rasa kantuk dan ASI yang memenuhi rongga mungil mulutnya. Rania pun perlahan tertidur. Sementara Naura begitu tertarik dengan fasilitas mini tv yang ada di depan bangku penumpang. Dan, tak berapa lama pesawat pun take off. Alhamdulillah berjalan mulus. Naura dan Rania aman. Hehehehe… 

***

Di tengah perjalanan, tiba2 Rania terbangun. Histeris! Rania terkejut dan memaksa saya agar berdiri menggendongnya. Saya memaksanya agar minum ASI tapi ditolaknya. Posisi saya yang berada di dekat jendela terlalu sulit untuk keluar dari barisan tempat duduk. Saya pun dibuatnya panik. Padahal, saat itu adalah saatnya makan. Karena baru saja Pramugari membagikan sajian sarapan. Menghiburnya dengan tontonan tapi tak mempan. Memberinya buah kesukaannya ternyata malah dijadikan mainan. Selanjutnya marah tak karuan. Saya menyadari berpasang2 mata sedang tertuju kepada kami. Sebagai suami siaga sekaligus ayah bijaksana, posisi pun diambil alih oleh beliau. Rania digendongnya agar tenang. Bukan hanya digendong tapi juga dituntun berjalan di sepanjang koridor. Hmmm, lumayan berhasil. Tapi, ketika kembali ke tempat duduk, aksi tangisan histeris pun terjadi lagi. Akibatnya suami terlambat sarapan.

Setelah transit di Ujung Pandang kurang lebih 20 menit, perjalanan pun dilanjutkan ke kota tujuan. Yaitu Kendari. Pesawat mengudara tidak terlalu tinggi. Dan hanya dalam waktu 45 menit. Tapi rasanya tetap lama bagi saya. Jujur saja, saya termasuk orang yang penakut naik pesawat. Karena saya takut ketinggian. Hanya pesawat kendaraan cepat yang bisa digunakan. Jadi, ya mau tidak mau saya harus mau. Selama di perjalanan pun, jendela lebih sering saya tutup. Padahal di luar sana matahari sedang bersinar dengan cantiknya. Sesekali saya mengintip. Dan Naura menyadari itu. Dia pun meminta dibuka. Beginilah decak kagum si anak 3 tahun 11 bulan kala itu. “Wow indahnya…,” kagumnya sambil meringis khas anak kecil. 

Kembali ke cerita Rania. Alhamdulillah Rania sudah tenang. Entah karena lelah menangis atau rasa takutnya telah hilang. Hanya saja dia enggan berpaling dari pelukan saya.

Dan, pukul 10:30 WITA (kurang lebih) kami pun mendarat dengan selamat si bandara Haluoleo. Dulu, waktu terakhir saya pulang, bandara Kendari tidak seramai sekarang. Dan, sudah banyak perubahan lainnya tentunya. Setelah mengambil bagasi, saya melihat ke luar. Ternyata kami sudah di sambut keluarga yang telah lama menanti. Adalah kedua orang tua saya dan adik laki2 saya satu2nya.

Terlihat sekali mereka tak sabar ingin segera menggendong cucu-cucunya. Maklum, cukup lama mereka tidak bertemu. Sampai-sampai mereka lupa menyambut saya dan suami. Saking senangnya menggendong cucu. Hihihi…

Perjalanan dari bandara menuju ke rumah cukup memakan waktu lama. Memang lancar tanpa hambatan kemacetan, tapi mampu membuat saya mual tak tertahankan. Sampai-sampai saya mabuk ketika perjalanan sampai di sekitar gunung. Jalan berliku, banyak bebatuan, lubang karena sedang ada pembangunan, hutan dan jurang pun ada di sekitaran. Menurut saya, lagu OST. Ninja Hatori “mendaki gunung melewati lembah…” sangat pas untuk menemani di perjalanan. Entah ada berapa gunung yang kami lewati. 

Saya perhatikan, sudah banyak pembangunan di Sulawesi Tenggara. Rumah-rumah penduduk sudah banyak yang tertata rapi. Meskipun tidak ada mall dan supermarket andalan seperti di Jabodetabek yang baris berbaris nyaris berhimpitan. Tapi, disinilan tujuan liburan kami. Menjauh sejenak dari keramaian hedonitas ibu kota. Mengajarkan anak-anak tentang hal baru yang nyaris tidak ada di kota. 

***

Hari minggu adalah hari pasar di desa Bima Maroa. Dulu, sewaktu saya masih kecil, masih ada hari rabu yang menjadi andalan untuk berjualan di pasar. Tapi, sekarang tumpah ruah hanya di hari minggu. Saya, suami, anak2, adik dan ibu pergi ke pasar menggunakan kendaraan motor. Sementara bapak sengaja tidak ke pasar. Maklum, kendarannya tidak ada lagi. Hehehehe… Tidak jauh berbeda dengan pasar pada umumnya. Berjualan sayur mayur, ikan, perabotan rumah tangga, pakaian, dll. Hanya saja, ada 1 hal penting yang tidak ada di kota2 besar. Satu sama lain mereka saling mengenal. Berpapasan berati harus menegur atau sekedar melempar senyum. Jika tidak, menurut saya akan dicap sombong. Begitulah tinggal di desa. Sikap saling menghormati dan sopan santun masih dijunjung tinggi. 

Pada saat kunjungan saya ke sana, saya sangat kesusahan mendapatkan jagung. Tidak ada penjual sayur 1 pun yang menjual jagung. Padahal, sesuai rencana saya akan memasak sup jagung untuk anak2. Menurut cerita ibu, jika sedang sulit sayur, maka harga sayur yang di jual bisa mahal. Seperti bayam, 2 ikat sekitar 8 ribu. Lain halnya jika sedang berlimpah ruah. Bisa2 sampai tidak laku. Dan jika sudah waktunya si pedagang pulang, sayuran yang masih tersisa ditinggalkan begitu saja. 

Ada hal yang membuat saya dan suami tercengang pada saat ibu membeli pisang (saya lupa namanya) sebanyak 4 sisir. Ibu cukup membayar 10 ribu saja. Wow! Bisa dibayangkan jika hal itu di Jakarta. Pasti langsung ludes dalam sekejap. Bukan hanya di kota, di desa pun apa saja bisa di luar dugaan. 

Agustus pada saat itu menjadi musim hujan di Bima Maroa. Berbeda dengan Jakarta dan sekitarnya yang mengalami kekeringan. Tapi, alhamdulillah selama 2 hari saya berada di sana cuaca terang benderang. Makanya bisa menikmati buah salak yang dipetik langsung dari pohonnya, kelapa hijau ataupun muda yang tinggal dipetik, dan singkong yang juga milik sendiri. Letaknya ada di halaman belakang rumah. Ibu dan bapak benar2 memanfaatkan pekarangan. Tak hanya itu, di ladang yang letaknya tak jauh dari rumah juga ditanami merica. Merica menjadi tanaman andalan bapak selain kopi dan jambu mede. Merica memiliki harga jual cukup tinggi. Makanya sangat disayangkan jika tidak dirawat dengan baik. Tapi, di beberapa hari selanjutnya, hujan pun mengguyur cukup lama. Tapi, tenang saja. Karena di desa Bima Maroa alhamdulillah tidak banjir. Itulah makanya begitu pentingnya daerah resapan. 

Anak2 belajar tentang alam. Cara memberi makan ayam menggunakan pakan beras, melihat sapi saat pagi sampai sore hari bebas tanpa dipungut biaya seperti di kota, kelelawar saat sore hari, dan tentu menginjakan kaki ke ladang. 

Ada hal yang kami lakukan agar anak2 tidak bosan selama disana. Adalah bermain pasir (sisa bahan bangunan) yang ada di halaman rumah, dibuatkan ayunan menggunakan alas sarung di belakang rumah, dan corat coret tembok rumah mbah. Saya melihat ada siratan keiklasan meskipun rumah mereka berakhir berantakan dengan hadirnya cucu2nya. Tidak ada teguran amarah. Justru mereka menemani hingga cucunya bosan dengan sendirinya. 

Disana, semilir angin yang mampu menggerakkan ranting2 pepohonan dan nyaris menyerupai gerakan air yang jatuh ke bumi. Bahkan, berhasil membuat saya panik lantaran ada banyak jemuran baju di luar yang belum diangkat. Tapi, begitu didengarkan secara seksama ternyata saya salah. Udaranya pun sejuk. Meskipun sesekali ada aroma tak sedap dari kandang sapi milik tetangga. Bunyi kokok ayam yang khas di siang hari sangat jarang ditemui di perkotaan. 

Jangan mengharapkan akan ada penjual jajanan yang sering lewat disana. Yang ada, justru kita sendiri yang harus kreatif membuatnya. Kalaupun ada penjual makanan, jaraknya lumayan jauh jika ditempuh dengan berjalan kaki. Hitung2 olah raga, saya dan keluarga pun pernah menikmati senja sore sambil berjalan membeli jajanan bakso. Soal rasa ngga kalah dengan bakso di kota. Itu artinya mereka banyak belajar.

***

Rasanya waktu seminggu masih sangat kurang untuk menikmati pedesaan disana. Tapi, berhubung Naura harus sekolah dan ayah harus bekerja, jadi di hari sabtu pun kami terpaksa pulang. 

Berharap tidak akan ada air mata yang keluar ketika salam perpisahan diucapkan. Tapi dengan sekuat tenaga pun toh jebol juga meski hanya setetes dua tetes yang keluar. Mereka, aku tahu mereka pun menahan tangis. Mudah2an kenangan yang ditorehkan anak2 selama menunggu di bandara menjadi kumpulan kenangan juga. Karena, saya perhatikan, anak2 semakin lengket dan seru bermain dengan mbah.

Insya allah tahun depan kita berkunjung lagi. Dan tentunya akan ada hal2 seru lainnya.

Selamat berlibur bagi yang berlibur….

Rindu untuk ibu

Aku merindukan mu, ibu. Rindu yang entah kapan akan bertemu di peraduan senja rahasia-Nya.

Aku merindukan mu, ibu. Rindu yang terus menggebu meminta bertemu. Rindu yang terus merindu tak kenal waktu.

Ibu!

Tes observasiĀ 

22 mei 2017, Naura mengikuti tes obsevasi sebelum masuk sekolah PG. Sebenarnya dia resmi masuk sekolah setelah lebaran nanti. Tes ini dilakukan kurang lebih sebagai bentuk pengenalan lingkungan, kegiatan belajar kepada calon siswa. Alhamdulillah Naura tidak menuntut saya untuk terus berada di dekatnya. Sesekali paling saya intip.aktifitasnya. lalu saya tinggal karena harus mengawasi Rania.

Rania adalah si anak yang heboh selama berada di sekolah. Mondar mandir, naik prosotan n beberapa mainan lainnya. Alhasil membuat saya kelelahan. Ternyata penuh perjuangan menemani anak sekolah sekaligus menjaga anak lainnya bermain. 

Step pertama akan Naura jalani di dunia pendidikan. Sekaligus dunia baru saya sebagai ibu. Otomatis akan ada beberapa perubahan pola kegiatan di rumah ketika nanti dia sudah aktif belajar. 

Hmmm…tanggungjawab saya semakin besar. Terharu dan rindu ketika berada di rumah memandanginya tengah bermain bersama Rania. Ternyata dia sudah besar.

Entah bagaimana rasanya nanti ketika di bulan Juli dia resmi menjadi siswa didik.

I love u nak.

liburan part.3

Beberapa bln yg lalu akhirnya kita liburan lagi. kali ini ke Bandung. ada mbah uti, rania, naura dan ayah. berangkat tepat setelah subuh. sekitar pukul 6. alhamdulillah sampai tujuan wisata pukul 9. adalah FLOATING MARKET Lembang Bandung tujuan utamanya. perjalanan hanya tersendat karena ada pawai. selebihnya lancar jaya. udaranya sejuuuk dan bikin fresh pikiran.

karena kita datang lebih pagi, jadi bebas pilih parkir. mau makan pun masih lengang. tapi, semakin siang semakin padat. karena pengunjung mulai berdatangan. tidak banyak yang kita makan. waktu itu kita pesan seblak, sate taichan, tongseng, somay, dan air putih. sebenarnya masih banyak lagi pilihannya. saking banyaknya sampai2 jadi bingung. tapi, not bad-lah pilihan2 itu. tapi ingat, makannya harus ditiup2 ya. karena masih panas. 

tiket masuk dapat ditukarkan dengan segelas minuman hangat. ada beberapa pilihan. yang pasti ada coklat. 

disana kita disuguhi pemandangan air yang dipenuhi ikan2 segar, angsa, spot2 untuk berpoto pun banyak, kereta air dan beberapa wahana bermain lainnya yang sangat disayangkan belum sempat kita nikmati. maklum, selama anak2 masih kecil, mereka masih membutuhkan istirahat ekstra. 

kami tidak menginap. semuanya dilakukan secara marathon. khawatir juga sih kalau suami lelah. tapi, alhamdulillah tidak. karena kami tidak memaksakan diri jika lelah. kami memilih menepi sekedar untuk istirahat. seperti ketika berada di cihampelas. sambil menunggu Naura bangun, kami istirahat. dan ketika berada di rest area. 

Cihampelas sejak dulu sebelum saya menikah selalu masuk dalam daftar tujuan kunjungan. Meskipun kali ini saya hanya berbelanja 2 stel pakaian untuk anak2. Dikarenakan tidak banyak yang membuat saya tertarik untuk berbelanja di sepanjang toko2 yang berada di depan jalan. Selain bahan2nya yang kurang bagus, sekaligus modelnya pun nyaris sama antara toko yang satu dengan yang lainnya. Alhasil, kita hanya meramaikan jalanan cihampelas. Hehehehe

saat dalam perjalanan pulang, Rania sempat membuat heboh. Karena tiba2 dia menangis ketakutan. Tidak ingin duduk sendiri dan memilik memeluk saya sambil meronta. Entah ada apa. Saya dan suami hanya bisa membaca surah2 pendek untuk mengusir segala gangguan. 

Dan kami pun mampir di rest area 97. Selain istirahat, pun untuk makan, belanja oleh2 dan melaksanakan shalat. Disitu masjidnya bersih n nyaman. Kalau siang hari, hawanya sejuuukkk. Meskipun di luar sangat terik.

Memang mudah terlaksana jika liburan dilakukan secara mendadak n tetap menyenangkan meskipun tanpa menginap. Selain irit juga. Hehehehe. Ok next akan ada liburan2 lainnya yang jauh lebih menyenangkan.

Oh iya, saya jika jalan2 memang sering lupa untuk berfoto. Karena terlalu sibuk mengawasi anak2. Paling hanya beberapa moment saja yang sempat diabadikan.

CU…