N & R

N & R

Mereka diciptakan tentu dengan karakter berbeda. Meskipun mereka terlahir dari ibu yang sama. Tak terasa sebentar lagi (26-8) Naura genap berusia 3 tahun. Selama perjalanan menuju angka itu, begitu banyak hal yang berubah darinya. Naura sudah mengenal warna. Meskipun belum sempurna dalam penyebutannya. Naura sensitif. Cepat terdiam jika dimarahi atau memilih lari dan tengkurap di tempat tidur. Mengenai kosa katapun tak terhingga jumlahnya. Meskipun belum disekolahkan, sebagai ibu berharap ada banyak ilmu pengetahuan yang dia dapat sebelum akhirnya nanti sekolah. Menjelang umurnya yang ke 3y, ayah sudah memberi amanat agar sejak dini dikenakan pakaian yang sopan. minimal bagian bawahnya tertutup. next diharapkan bisa memakai jilbab. jaman sekarang kalau tidak diajarkan nilai2 agama sejak dini takut keblinger.

***

Sementara Rania, sejak usianya 8m sudah terbiasa belajar berjalan atau bisa juga dibilang ‘rambatan’. tingkah lakunya semakin menggemaskan. ceriwis. dan yang pasti selalu bikin mba Naura marah karena diganggu saat main. sebentar lagi usianya genap 10m. entah kejutan apa lagi yang akan muncul. 

oh iya, ada hal yang paling disyukuri mengenai vaksin yang digunakan Naura dan Rania. karena RS yang menjadi tempat mereka melakukan imunisasi bebas dari vaksin palsu. Alhamdulillah. ayah sempat mogok ga mau vaksin anak2 sebelum ada pengumuman mengenI RS mana saja yang menggunakan vaksin palsu. sampai akhirnya ada pengumuman pada hari itu, baru deh ayah sepakat untuk vaksin lagi. tapi sayangnya vaksin tyfoid dan influenza yang selama ini ditunggu Naura masih kosong. sudah hampir 1y. tapi vaksin campak untuk Rania siap tersedia.

Alhamdulillah wasyukurillah. sehat2 ya anak2 ayah dan ibu….

Ulah Naura

Ulah Naura

Rasanya sedih waktu denger anak cerita abis dimarahin tetangga. Tp memang anaknya wajib ditegur. Karena, waktu ngaji Naura malah naik2 ke kolam ikan. Waktu itu sengaja ditinggal pulang dulu karena Rania haus. Eeh, ternyata bablas ketiduran anaknya. Ya sudah ngga bisa nemenin lagi. Ngga berapa lama Naura sudah pulang. Padahal guru ngajinya msh di tempat. Usut punya usut begitu ditanya ternyata dia ditegur oleh ibu dari temannya. Dalam hati rasanya “jleb”! Sedih juga. Tapi, biar Naura tahu bahwa dia salah. Saya pun ngga membela dia. Saya jelaskan, “kalo salah wajib ditegur atau dimarahi. Tapi, kalo ga salah ga boleh dimarahu.”
Namanya juga anak2. Biarkan belajar menghadapi orang lain. Tapi tetap dalam pengawasan.

Rania tumbuh gigi

Rania tumbuh gigi

Alhamdulillah yang dinanti2 akhirnya ‘bersemi’ juga. Gigi Rania mulai menampakkan diri. Dulunya setiap kali diraba belum menunjukkan tanda2 itu. Lama2 bosen dan dicuekin. Tapi, menginjak usia 7w dan ketika sedang menyuapi Rania menggukan sendok besi, gue merasa sendoknya menyentuh benda keras. Dan benaaar! Itu adalah gigi. Tadinya gue pikir cuma tumbuh 1. Setelah dicek lebih detail lagi ternyata ada 2. Waaah, tambah sumringah deh ibu :*

Naura Ngaji

Naura Ngaji

Hari ini adalah hari pertama Naura belajar ngaji bareng sama teman-temannya di rumah Raka. Naura antusias banget. Gue perhatiin setiap kali mereka baca doa pendek bersama, Naura selalu ngikutin dari rumah. Jadi, menurut gue kayaknya dia tertarik untuk belajar. Dan lagi selalu bilang “mau ngaji”. Sedikitpun nggak gue paksa harus fokus baca dan menulis. Mau duduk bareng dan anteng aja udah alhamdulillah.
Tambah pinter ya nak…

Amazing

Amazing

Alhamdulillah anak2 sudah kembali sehat setelah hampir seminggu lebih mengalami batuk pilek. Bahkan, saya dan suami pun turut merasakannya secara bergantian. Memang sungguh benar kalimat, “sehat itu mahal harganya”.
Ada kejutan yang diberikan Rania dan Naura usai sembuh. Diusianya yang menginjak 7 bulan, Rania sudah bisa merangkak. Entah itu menggunakan lutut maupun perutnya. Bahkan pelan2 hampir bisa duduk sendiri. Meskipun gagal karena jatuh lebih dulu.
Sementara Naura, sifat kritisnya semakin bertambah. Sebagai orang tua pun harus memiliki senjata agar tidak lumpuh ketika ditodong pertanyaan bertubi-tubi.
“Kakaknya mana?”
“Sekolah.”
“Sekolah dimana?”
“Di sekolahan depan.”
“Depan mana?”
“Itu lho mbak, di depan komplek kan ada TK. Nah kakak sekolahnya di situ.”
“Mamanya mana?”
“Masak.”
“Masak dimana?”
“Di dapur.”
“Dapur mana?”
“Dapur rumah.”
“Rumah mana?”
“?????…..”
Tentunya masih ada banyak lagi pertanyaan Naura yang membuat siapapun yang mendengarnya terkekeh, kesal karena terus bertanya atau bahkan ingin menciumnya bertubi2 karena gemas.
That’s amazing from my child. How abaout u?

Pawon

Pawon

Dulu, waktu masih lajang, yang ada di pikiran saya adalah penuh dengan kata-kata belajar, belajar, dan belajar. Entah belajar waktu di bangku sekolah dan belajar saat di dunia kerja. Ngga terpikir sedikitpun bagaimana nantinya ketika sudah berumahtangga harus masak untuk keluarga. Jujur, untuk resep masakan, menu yang paling saya kuasai adalah sayur bening. Entah itu bening bayam, katuk atau bening oyong. Selebihnya selalu nyontek karena sering lupa.
Begitu punya rumah sendiri, saya pun dituntut untuk selalu memasak. Karena suami doyan makan. Terlebih waktu itu Naura belum saya kasih makan yang aneh2. Kunci andalan saya ada pada 1 benda. Hapeeee…
Karena, segala macam resep ada di sana.
Sampai akhirnya saya punya 2 anak. Kerepotanpun semakin terjadi. Pekerjaan saya lakukan dengan metode jam terbalik. Saya baru bisa masak di malam hari ketika anak2 tidur. Bahkan pernah saya masak jam 11 malam. Seandainya ada yang jualan sayur matang siap antar.
Tapi, ternyata Allah mendengarkan doa batin saya. Akhirnya di lingkungan rumah ada yang membuka jasa ketring. Alhamdulillah. Tenaga saya bisa tersimpan untuk menjaga anak2 lebih lama. Jujur saja, kalau saya harus masak malam hari, dan ketika bangun pagi2, badan saya masih butuh istirahat. Tapi, apa daya, suami harus berangkat kerja. Jadi saya harus siap siaga.
Pawon saya pun sepi dari aktifitas. Paling kalo di meja makan kurang lauk atau harus merebus air, baru deh terlihat kotor lagi.

Hehehe…

Musim

Musim

Waktu gue baru pindah, hanya ada 1-2 ibu hamil. Tapi, begitu menjelang kehamilan gue masuk semester 2, mulai deh bermunculan ibu-ibu hamil selanjutnya. Bahkan ada yang bersamaan. Percaya ngga percaya, kalau menurut suami sih ya, aura ibu hamil lebih mudah menular. Makanya banyak-banyak deket atau minimal silahturahim sama bumil. Tapi, itu menurut pendapat suami sih, ya.
Memang akan terus ngga percaya atau terheran-heran kalau ada tetangga yang hamil hanya berbeda hitungan hari, minggu dan bulan. Itulah rahasia Allah dan rencana Allah.
Dan yang belum kunjung diberikan momongan semoga cepat diberikan momongan…amiin ***