serba serbi pasar

serba serbi pasar

waktu itu, sudah hampir seminggu lebih abang penjual sayur di sekitar komplek libur. menurut cerita sih ada anggota keluarganya yang meninggal. sepertinya akan memakan waktu lama liburnya. alhasil, saya meminta pertolongan suami untuk mengantarkan ke pasar. 

pasar seperti surga dunia bagi ibu2 pecinta masak. kewajiban saya adalah menyediakan masakan yang lebih baik untuk keluarga saya. jadi, mau ga mau saya harus pergi ke pasar. meskipun bau, becek dan sesak. 

sesampainya di pasar, ternyata penjual sayur langganan saya libur. seketika buyar bahan2 yang mau saya beli dan yang tadinya tersimpan rapi di ingatan. saya mencari penjual yang memiliki kualitas barang oke tentunya. tapi, tetap tidak mengenyampingkan sisi kemanusiaan juga. saya memesan racikan sayur asam kepada si ibu penjual sayur yang sepertinya seumuran nenek saya. hanya dalam hitungan 5 detik kurang lebih, pesanan saya sudah tersedia. saya pun menerawang isinya (karena plastik yang digunakan berwarna putih transparan). “masih bagus nih barangnya,nek?”. “meskipun sudah diplastikin, barang yang saya kasih masih bagus2”. okelah. saya masih menghormati beliau sebagai orangtua. jadi, plastik pun tidak saya buka. 

sesampainya di rumah, sayur asam itu tidak langsung saya masak. sekitar 2 hari kemudian barulah saya olah. dannn, di luar dugaan! saya ga permasalahkan harga yang dibandrol si ibu penjual sayur itu. tapi, ternyata racikan sayur yang saya minta diluar kebiasaan penjual sayur lainnya. ga ada lengkuas, daun salam, daun melinjonya hancur, ga ada terong, ga ada nangka muda, dan asam yang diberikan pun asam jawa yang sudah dikupas. OMG! saya hanya bisa mengelus dada. jadi, sayur asam saya hanya berisi jagung, kacang panjang, labu, melinjo. si ibu sih memberikan pepaya muda. tapi, saya ga biasa masak sayur asam menggunakan pepaya. dan biasanya pun saya menolak jika ditanya menggunakan pepaya muda atau tidak. ya sudahlah ya. semoga nenek itu cepat dapat mengoreksi diri. 

memang bermacam2 sifat penjual di pasar itu. ada yang sopan, banyak senyum, jutek, tegas, dan lamban.

oh iya. setelah saya beli sayur asam. saya pun menuju penjual bumbu. saya membeli lengkuas, jahe, dan bawang merah. alamaaak! sampai2 Rania yang saya gendong rewel karena menunggu lama dilayani si ibu penjual. padahal, sudah tidak ada pembeli yang mengatri panjang. hanya ada saya dan 2 laki2. itu pun saya menjadi pembeli terakhir yang dilayani setelah si ibu memilih melayani laki2 yang padahal datangnya belakangan. dunia oh dunia! hayati lelah mengantri…. lagi2 saya salah memilih penjual. ini tak lain karena penjual bumbu langganan saya sedang tutup juga.

saya bukan tipe  orang yang menawar segala macam jenis makanan melampaui batas kewajaran. dan menawarpun memang jarang saya lakukan. karena sama2 sebagai pedagang, saya pun merasakan keuntungan banyak bisa menjadi modal selanjutnya untuk berdagang. jadi, rasanya kurang pantas jika menawar. terlebih kepada pedagang yang bermukim di pasar. kalau pun saya terpaksa menawar, paling selisihnya masih dalam batas wajar. saya pun ga abis pikir jika ada orang yang menawar bahan masakan di pasar atau abang sayur keliling melampaui batas. padahal, jika membeli baju kisaran harga ratusan ribu bahkan lebih tanpa pikir panjang langsung dibeli. 

di pasar yang sering saya kunjungi, setahu saya hanya ada 1 pedagang seafood. seafoodnya sih seger2. tapi, begitu berhadapan dengan si penjual, muka saya langsung ga seger. penjualnya itu ga ramah. senyum sedikit aja enggak. saya memang tipikal orang yang menilai orang lain melalui kesan pertama. jika kesan pertama kurang menyenangkan, maka penilaian buruk bisa saya sematkan. duh mentang2 yang paling laris. tapi, begitu saya berkeliling ke seluruh penjuru isi pasar, akhirnya saya menemukan penjual seafood lain. orangnya jauh lebih ramah. pelayanannya maksimal. dan mulai saat itu saya memutuskan untuk beralih haluan.

di pasar, ada juga yang sepi pembeli. penjual lebih banyak melamun. memandangi pembeli yang berkerumun memilih pedagang di depannya. mungkin dalam pikirannya terbesit “alangkah beruntungnya mereka”. tidak ada salahnya membeli dagangan mereka, lho. 

di pasar juga ada yang jual gorengan, ketan, ayam ungkep, dan sayur yang sudah dimasak dan dibungkus dalam plastik. hanya saja, ada beberapa yang saya lihat dihinggapi lalat. mungkin jika lebih baik ada penutupnya. buah, baju, oerabotan pun tersedia. jadi jangan khawatir.

hmmm…, sebagai pembeli, selain harus pintar juga dituntut bijak dalam berbelanja. bagaimana cerita ibu2 yang lain saat berkunjung di pasar? 

Kamu beranjak besar Naura

Kamu beranjak besar Naura

saya bukan tipe ibu yang mudah melepas anak bermain. sekalipun saya tidak membuntuti, setidaknya saya berada di luar juga dan mata saya masih bisa menjangkau keberandaannya. bahkan dalam aktifitas kegiatan nonformalnya. sekalipun masih dalam lingkungan komplek rumah, saya tidak serta merta langsung membiarkannya berangkat dan pulang sendiri. hampir 1 bulan saya menunggu di depan rumah guru mengajinya selama dia mengaji. resikonya adalah saya harus mau bercapek ria mondar mandir karena sambil menjaga si kecil.

pikiran saya terlalu rumit untuk dijelaskan. ditambah pemberitaan mengenai tindak kejahatan terhadap anak. dan, lalulalang kendaraan yang masih diacuhkan anak-anak. namun, seiring berjalannya waktu, pada akhirnya pelan-pelan saya memberanikan diri untuk membiarkan dia berangkat hanya bersama temannya. tapi, tetap saya awasi dari jauh. 

dan sore itu, mendadak cuaca berubah gelap. sementara sebentar lagi saatnya Naura pulang mengaji. harus membayangkan menggendong Rania di tengah hujan sambil membawa payung menjemput Naura rasanya ngga tega. tapi, kepada siapa saya harus menitipkan Rania. jika saya titipkan maka akan menambah pekerjaan baru. bukan hanya itu. saya pun akan mengganggu kenyamanan orang lain. ya sudahlah. pada akhirnya saya beranikan diri menjalani apa yang saya bayangkan tadi. hujan turun semakin deras. tapi, Rania berdecak riang melihat payung di atas kepalanya.

saat menuju rumah, Naura terlihat kerepotan membawa payung. terlalu rendah. sehingga membuat pandangannya terhalangan. celananya pun basah. tidak peduli ada genangan kakinya terus menerjang. berkali-kali ku ingatkan agar berhati-hati.

terimakasih hujan. karena engkau turun sehingga membuatku mengerti bahwa ilmu tidak hanya diberikan di bangku sekolah. Naura menjadi tahu bahwa payung tak hanya digunakan ketika panas terik. tapi juga saat hujan. payung yang sekalipun melindungi kepalanya tapi ternyata masih bisa membuat kakinya basah.

#Naurania

bertetangga

bertetangga

waktu masih lajang dan setelah menikah tapi masih tinggal di rumah orangtua, masih sedikit adanya keinginan untuk membangun hubungan lebih dekat dengan tetangga. selama itu yang tertanam dalam diri saya adalah, yang penting setiap ketemu senyum sudah cukup. ga perlu ngobrol atau saling mengunjungi.

tapi, begitu pindah ke rumah sendiri, mau ga mau saya harus berubah. mengunjungi tetangga sakit, melahirkan, pkk, posyandu dll. dan disitu saya pun harus bisa merangkai kata menjadi kalimat santun sebagai bahasan obrolan antar tetangga. kasarnya sih basa-basi. meskipun saya memiliki pengalaman bekerja di kantor, tapi dunia pertetanggaan itu berbeda. sensitive. jika tidak hati2 dalam bersikap, bergaul dan berbicara, maka bisa menjadi bahan pembicaraan.

tetangga bukan sedarah. tapi, lebih dari sedarah. ketika kita membutuhkan pertolongan, tetangga adalah saudara terdekat yang akan datang lebih cepat. akan lebih baik jika kita selalu menjaga hubungan baik dengan tetangga namun tidak berlebihan. segala sesuatu yang berlebihan memang tidak sadap dipandang. dikhawatirkan, jika tiba2 terjadi konflik justru akan memecah tali silaturahmi yang sebelumnya telah terjalin. hubungan baik itu terjalin sewajarnya saja. tidak masuk terlalu jauh ke ranah pribadi dan sampai mengganggu kenyamanan salah satu anggota keluarga tetangga. tidak mau kan dianggap sebagai orang yang tidak diharapkan?

pun karena bertetangga membuat kita mengenal lebih banyak karakter manusia. belajar bersabar, adaptasi, dan berkomunikasi lebih baik. bertetangga juga mengharuskan dapat memilih mana yang baik dan tidak.

selama bertetangga, saya berusaha menghindari obrolan yang tidak bermanfaat. istilahnya menggunjing. jika ingin mendebatnya, paling saya cerita ke suami. sebagai bahan diskusi. mulut memang susah untuk tidak berkomentar. maksud hati memberi solusi atau pahlawan kesiangan, tapi yang ada malah membuat orang tersinggung. saya berusaha menghindari perselisihan dengan tetangga. makanya, suami adalah orang yang selalu menjadi tempat diskusi saya. jika saya salah, suami pun akan membetulkan. begitupun sebaliknya.

bertetangga juga jangan pelit, ambisius dan iri hati. hihihihi… sesekali berbagi makanan jika ada berlebih. mungkin bagu tetangga rasanya biasa. tapi, dengan bertemu insya allah akan tumbuh keakraban. insya allah. hihihihi

sampai sekarang, saya pun masih terus belajar bertetangga dengan baik. salam super tetangga…

liburan part. 2

liburan part. 2

hi hi hi…, nulisnya marathon ya. maklum mumpung ada waktu jadi langsung aja bablas.

jadi, setelah suami resign dari kantornya yang terakhir (he*nz ab*), besoknya yaitu hari selasa, sekeluarga langsung berangkat ke bogor. rumah mbah uti. dan hari minggu pulang.

liburan kita ga jauh. karena masih di area bogor. lagi2 murah meriah ya. adalah cimory riverside. kita berangkat pagi. karena menghindari macet. meskipun bukan weekend tapi kita berusaha mengantisipasi. karena ga mau waktunya habis terbuang percuma di jalan. 

sampai di sana, di depan pintu masuk langsung disambut si sapi besar bertuliskan cimory. seperti biasa kebiasaan warga indonesia, apalagi kalau bukan foto.

banyak tempat duduk yang disediakan untuk menikmati hidangan. kualitas makanannya alhamdulillah memuaskan. apalagi sosisnya. naura lahap makannya. soal harga, dimana ada kualitas pasti ada harga lebih yang harus dikeluarkan. jadi, berimbang sih. 

ada area tempat makan yang langsung menghadap ke rerumputan hijau dan rindangnya pohon besar (hutan). ditambah aliran sungai yang deras menambah eksotisnya pemandangan. tapi, sayangnya jika matahari menampakan diri dalam posisi tinggi, maka sinarnya berhasil menyilaukan mata dan menyengat kulit. jadi, lebih baik ambil posisi yang mengahadap langsung pemandangan itu ketika pagi atau sore menjelang. 

diberikan kesempatan bagi pengunjung untuk berjalan lebih dekat dengan alam tersebut. cukup membayar 10rb /orang dan mendapatkan 1 bungkus susu kedelai secara cuma2. ada jembatan panjang yang ditata apik untuk mengantarkan pengunjung mendekat ke area hutan. ternyata, ada kebun binatang kecil. binatangnya ada sapi, kelinci, rusa, dan beberapa jenis burung. naura senangnya bukan main. di antara sajian binatang2 itupun disediakan juga spot untuk berteduh atau sekedar melepas lelah.tapi, jangan heran ya jika mencium bau2 tak sedap. ya namanya juga ada binatang sapi. empupnya kan pasti sembarangan. hihihihi…

bukan hanya itu saja. di dekat area makan tadi, juga ada tempat games, taman bermain, toko baju dan minimarket yang menyediakan oleh2 coklat, susu kedelai, yogurt, dll. pokoknya alhamdulillah puas.

perlu dicoba, lho….