Tumbuh Di perutmu

Abay (anak bayi->singkatan hasil karya temen kantor gue) ngga pernah minta atau memohon-mohon untuk dilahirkan ke dunia yang udah usang ini. Jangankan meminta, memilih calon orangtuanya pun ngga pernah.
Gue masih ngga abis pikir sama calon ibu yang menyia-nyiakan kesempatan disaat doa-doa malam nan panjangnya bersama suami terkabul. Misalnya nih; -contoh kasus ini gue ambil dari lingkungan kantor gue. Ngga usah disebut siapa namanya. Bisa-bisa nanti gue diamuk masa. Jadi, begini ceritanya;
Pada suatu hari…, halah! Jadi begini nih, ada seorang embak yang udah hampir 1 tahun nikah ngga kunjung dikasih anak. Padahal kerja malamnya kenceng abis. Tempur mulu :p. Sering konsultasi ke dokter. Sampai-sampai rutinitas istrinya yang awalnya padet terus sampe pulang malem udah mulai dikurangi. Bahkan dalam sebulan kalo diperhatiin sering pulang cepet. Sayangnya, usaha itu belum membuahkan hasil juga. Munculah ide untuk ikut program tanggalan. Jadi, kalo ngga salah nih ya, masa hubungan intim mereka dilakukan saat istrinya lagi subur. Dan semua itu diitung lewat tanggalan. Dihitung setelah selesai masa datang bulannya (setelah masa menstruasi berakhir dihitung 14 hari kedepan lalu ditambah 2 dikurang 2). Ngerti ngga? Gue juga masih bingung sih. Hahahahaha…. Tapi, kurang lebih begitulah ya.
Nah, setelah program itu dilalui bersusah payah, akhirnya membuahkan hasil juga. Si istri hamil juga. Teman-teman menyambut senang. Termasuk gue ikut seneng.
Tapi, apa yang terjadi selanjutnya?
Gue memang belum merasakan yang namanya mual dahsyat waktu lagi hamil, belum berasakan ngga bisa masuknya makanan ke perut karena memang ngga ketelen, dan itu berlangsung cukup lama sampai-sampai harus di opname. Tapi, entah kenapa batin gue sebagai perempuan ngga bisa terima ketika hal itu terjadi sama si istri itu. Karena, dia ngga berusaha untuk melawan rasa mualnya, ngga berusaha supaya badannya dan anaknya tetep sehat. Gue rasa dia cuma mikirin dirinya sendiri. Mentang-mentang mual jadi males makan berhari-hari. Males minum vitamin. Dia ngga tau aja gimana tumbuh kembang si jabang bayi nantinya. Mungkin aja kan akan ada dampak buruk karena kurangnya asupan gizi.
Seharusnya, ketika rejeki itu udah dikasih, dia bisa menjaga lebih baik. Separah atau menderitanya dia berkorban karena melawan mual. Toh, pasti akan ada masanya rasa mual itu hilang. Gue yakin. Karena buktinya, si pencetus nama Abay juga mengalami hal itu. Sekarang dia udah makan normal. Udah jarang mual (dulu selama 1 bulan full dan setiap pagi pasti ngurung di kamar mandi karena uwek-uwek).
Gue perhatiin ternyata bukan gue doang yang menaruh kesal. Temen sebangku gue dan beberapa teman lain pun kesel. Karena dampaknya adalah dia jadi jarang masuk. Ujung-ujungnya temennya yang jadi tumbal. Udah gitu, seolah-olah deritanya itu jadi sumber kebanggaan buat dirinya sehingga bikin dia rajin nulis keluhan di twiter ataupun status bb ( maaf ya šŸ™‚ ).
Tambah kesel lagi begitu tahu dia lebih seneng makan yang pedes-pedes atau yang mengandung MSG. Oke ngga masalah makan yang pedes, tapi alangkah lebih baiknya kalo bisa diimbangi sama asupan gizi. Buah ke’, vitamin ke’, atau makanan 4 sehat 5 sempurna.
Dari dalam hati gue yang paling dalam, gue berharap hal itu ngga akan terjadi sama gue atau temen-temen gue lainnya. Dan gue minta maaf karena udah jadiin dia bahan tulisan di blog ini.
Di luar sana masih banyak orang yang nggak seberuntung dia. Berharap bisa seberuntung dia. Tapi, begitu bodohnya dia ketika terus-terusan bersikap Manja dan Menderita Buatan :). Semoga dia juga inget masa-masa perjuangannya dia dulu ketika ingin mendapatkan Abay.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s