Alfhabeth & hijayah

Alhamdulillah, sebentar lagi Naura sekolah Play Group (PG). saya sadar, Naura akan menjadi murid paling besar di kelasnya. karena postur tubuhnya yg tinggi n umurnya yang 1 bulan menuju 4y ketika masuk sekolah (bulan Juli). tapi ga apa2. ingat! sekolah atau belajar tidak mengenal umur ataupun tinggi badan. sengaja saya lambatkan, karena saya tidak ingin semuanya berjalan secara tergesa2 tanpa melihat sikon si anak. jika memang nanti di tengah perjalanan si anak sudah jauh lebih mampu atau pesat perkembangannya, maka saya dan suami akan berdiskusi dengan guru terkait meminta pertimbangan untuk naik tingkat. ya semoga saja bisa.

sambil menunggu masuk sekolah, banyak hal yang pelan2 saya berikan kepada Naura. baik itu ilmu maupun pengetahuan. dan Naura tipe anak yang tidak bisa dipaksa belajar. hal itu yang saya tangkap ketika belajar dengan saya dan suami. tapi, ketika dengan orang lain, seperti guru mengajinya, Naura bisa mengikuti arus. makanya dia sudah tahu huruf2 hijayah. meskipun mengaji masih masuk Iqra 1. ya, mudah2an ketika nanti sekolah pun bisa belajar dengan baik juga.

ada tak tik yang saya lakukan untuk mengenalkan alfhabeth kepadanya. adalah dengan memberikan perumpamaan. misalnya; huruf yang seperti prosotan adalah K, huruf yang seperti mcd adalah M, yang seperti donat O, dll. dan hasilnya alhamdulillah pelan-pelan mulai hafal. 

belajar dengan anak2 usia dini tidak selalu penuh keseriusan. ajak dia bermain sambil belajar. sebagai ibu, saya dituntut untuk selalu aktif berinteraksi dengan anak. saya menginginkan adanya komunikasi 2 arah yang kelak bisa membantunya atau mendorongnya menjadi manusia yang terbuka (ekstrofet). jadi, ketika ada masalah lantas tidak membuatnya berdiam diri memendam masalah. alhamdulillah saya cepat tersadar ketika sudah asyik dengan kesibukan di rumah. apalagi semua pekerjaan saya handle sendiri. merasa kasihan melihat anak2 sibuk bermain sendiri tanpa saya. padahal saya ada di sekitar mereka. makanya, saya harus pintar mengatur waktu. sebisa mungkin waktu saya lebih banyak dengan mereka. 

ketika nanti anak2 sudah masuk dunia sekolah, saya sepenuhnya tidak serta merta lepas tangan. di rumah pun harus berada di bawah pengawasan ketika belajar. saya khawatir, jika nantinya saya terlalu percaya pada sistem di sekolah, namun ternyata si anak berada di bawah tekanan belajar, justru akan membuat si anak tertinggal. untuk itu kembali lagi pada sistem belajar di rumah “bermain sambil belajar”. biasanya, selesai mandi sambil memakaikan baju, saya mengajak Naura menyanyi. padahal isi liriknya tentang nama2 malaikat atau nabi. iseng2 saya pun menjadi bu guru. menuntun Naura untuk menyebutkan huruf2 alfhabeth, angka dan hijayah. meskipun sudah hafal dalam penyebutan, tapi dia belum hafal sepenuhnya dalam mengenal bentuknya.

sebagai orangtua baru, saya belum berani dan bahkan takut menuntut anak2 untuk selalu menjadi yang pertama. cita2 saya tidaklah muluk2. cukuplah mereka kelak menjadi anak2 yang sholehah, baik dan jauh dari sifat syirik, iri, ria’ dan dengki. tidak selamanya pertama itu menjadi utama.#

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s